My Aceh Tour | Tradisi peusijuek, merupakan salah
satu tradisi yang konon katanya sudah ada sejak sebelum islam masuk ke Aceh. Ada
yang mengatakan bahwa tata cara pelaksanaannya memang tidak mengandung unsur
islam sedikitpun. Di Aceh palaksanaan peusijuek tetap dilakakukan karena
peusijuek merupakan salah satu ritual adat dalam mengapresiasikan sesuatu atau
mengakhiri sengketa yang terjadi antar warga. Peusijuek sering dilakukan pada pengapresiasian kebahagiaan
pada saat seorang anak telah menamatkan bacaan Al-Qur’annya yang perdana, anak
yang akan melakukan khitan (sunatan), seseorang
yang hendak berangkat dan pulang dari ibadah haji, serta ketika menggunakan
sebuah atau ketika menggunakan sebuah peralatan baru yang diannggap mulia
berdasarkan adat Aceh. Adapun bahan yang diperlukan dalam prosesi ritual
peusijuek diantaranya ialah, air, tepung tawar, beras, padi beserta juga
beberapa potongan ranting bunga beserta akarnya. Air dan tepung tawar yang
diaduk menjadi satu lalu dipercikan dengan akar dan ranting bunga, bermaksud
agar orang yang bersangkutan selalu bersabar dan ketenangan. Sedangkan padi dan
padi ini yang ditaburi diatas kepala ini mempunyai makna sebagai kesuburan dan
kemakmuran. Pada ritual peusijuek, yang jidat bersangkutan juga digosoki oleh nasi
ketan yang berwarna kuning (Bue Leukat Kuneng) dan juga disuapi
dengan bue leukat kuneng.
Ritual ini merupakan asimilasi budaya hindu
kedalam budaya Aceh yang sangat kental dengan islam. Ini di karenakan agama
hindu sudah berada di Aceh sebelum agama islam masuk ke Aceh. Unsur-unsur agama
hindu di Aceh dihilangkan, namun tradisinya kini telah diasimiliasikan dengan
adat Aceh yang kental dengan islam dan masih dipertahankan sampai sekarang.
Asimilasi budaya ini juga pernah dituliskan oleh Teuku Mansoer Leupeung,
seorang Ulee Balang yang cukup dikenal sebagai pujangga dalam hikayat Sanggamara.(Aceh Jaya)