My Aceh Tour | Banyak
sejarah yang sudah tertoreh dalam buku sejarah. Sangat banyak kenangan masa
lalu indonesia yang tertulis dalam sejarah yang dilupakan begitu saja. Aceh
dengan berbagai kontribusinya dalam memperjuangkn kemerdekaan Republik Indonesia
seakan dilupakan begitu saja.
Daud
Beureueh, yakni pada masa Aceh merupakan kerajaan yang merdeka serta juga
merupakan bagian dari kekhalifahan Turki Utsmaniyah, Soekarno datang kepada abu
Daud beureueh pada tahun 1948 untuk turut membantu mengusir para kolonial
belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada
17 Agustus 1945. Dan beliau berjanji bahwa Aceh akan diberikan kebebasan dalam
mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan syariat agama islam. Semua janji
ini akhirnya diingkari, provinsi aceh yang sudah diberikan kebebasan mengurus
rumah tangga sendiri dibubarkan dan harus bergabung dengan provinsi Sumatera
Utara.
Di
lain waktu, warga Aceh juga telah mengikhlaskan berbagai hartanya untuk membeli
pesawat yang kini telah menjadi nenek moyang dari maskapai penerbangan
kebanggaan bangsa ini yakni, “Garuda Indonesia Airways”. Lagi- lagi seakan Aceh
terlupakan begitu saja.
Dua
bukti ini mungkin sudah sangat cukup untuk membuktikan bagaimana rasa
nasionalis rakyat Aceh terhadap bangsa ini. Tetapi, apa yang terjadi pada Aceh
pada masa orde baru?
Aceh yang turut serta dalam pemusnahan PKI
tidak berarti oleh mereka yang berada dibangku pemerintahan yang ada di
Jakarta. Hasan tiro selaku deklarator Aceh Merdeka (AM) marah besar dan
melakukan perlawanan, dan hal serupa sudah juga dilakukan oleh Daud beureueh. Perlawanan
ini bukan bermaksud untuk memerdekan diri dari Indonesia, tetapi hanya untuk
meminta sebuah keadilan kapada bangsa yang agung ini.
Prajurit
Kopassus yang merupakan robot jelmaan manusia dikirim ke Aceh untuk menumpahkan
darah rakyat Aceh dengan dalih Aceh ingin memerdekakan diri dari Indonesia.
padahal, pada saat itu AM belum mendarah daging dalam tubuh rakyat Aceh, tetapi
perintah untuk membunuh dari penguasa harus tetap dilaksanakan. Berawal dari
sinilah pemberontakan di Aceh terjadi. Pelanggaran HAMyang merajalela di Aceh
terus tumbuh subur akibat kurang pekanya telinga sang penguasa.
Tidak
cukup dengan menumpahkan darah rakyat Aceh, penguasa saat itu juga melakukan
penelanjangan rakyat aceh secara terstruktur, dimana siswi Aceh dilarang
menggunakan jilbab. Belum lagi penaman era “Tienisasi” yang mengharuskan isteri
para pejabat dari tingkat rendah hingga kelas elit harus mengenakan kebaya dan
sanggul ala ibu Tien.
Darah
yang bersimbah di Aceh dianggap sebagai sebuah permainan hiburan. Hanya satu
yang pertanyaan, yang sangat mengganjal dalam relung rakyat Aceh saat itu
“Dimana bukti bahwa pancasila itu sakti? Mengapa lima sila yang ada di dada
garuda tidak membela Aceh disaat itu?”
Apakah kesaktian
pancasila tidak untuk Aceh? Wallahu’alam Bissawab. (Aceh Jaya)