My Aceh Tour | Semarak
suara pengajian terdengar keras dari salah satu Balee -Pondok pengajian
yang tidak begitu jauh dari sebuah mesjid. Kegiatan yang sangat rutin
dilaksanakan oleh anak-anak hingga remaja tersebut berlangsung dari semenjak
selesai shalat Magrib hingga shalat ‘Isya. Kegiatan ini sudah cukup membudaya
disetiap mesjid, baik itu dikota maupun di desa-desa. Dimana seluruh santri
duduk dalam posisi melingkar sambil mengaji dan menunggu guru mengaji datang
menghampiri mereka satu-satu untuk mengevaluasi bagaimana bacaan ayat suci
mereka, dan hingga mereka dinyatakan layak untuk membaca ayat ataupun surah
selanjutnya dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut. Pendidikan non-formal ini dilaksanakan dengan
seikhlas hati oleh guru mengaji tersebut yang sebelumnya telah diutus oleh
perangkat desa dalam musyawarah di desa tersebut.
Teungku,
inilah sebutan di aceh bagi kaum tua yang memiliki ilmu agama yang cukup tinggi
sehingga dipercayakan untuk membagikan ilmu agamanya dengan mengajarkan mengaji
serta ilmu lainya yang berkaitan dengan agama islam. Meskipun imbalan dengan
seadanya, bagi mereka (Teungku) mengajarkan ilmu agama dan mengaji sudah sangat
senang, karna ini merupakan salah satu sunnah rasul, yaitu berdakwah. Para
teungku sangat ikhlas untuk membagikan ilmunya kepada santri-santri selaku
generasi muda islam untuk kedepannya, membina generasi muda untuk tetap
berpegang teguh pada tali Allah S.W.T dengan berpedoman pada Al-qur’an dan
Hadist.
Selain
dipercaya untuk mengajarkan mengaji, para teungku juga dipercayakan untuk
memimpin berbagai masalah yang berkaitan dengan hal-hal keagamaan dalam suatu
wilayah dimana ia tinggal. Seperti pemutusan hukum adat yang bedasarkan
syariah, memimpin upacara kematian, serta hal-hal lainnya yang menyangkut
dengan keagamaan serta adat. Teungku sangat dihargai disetiap daerah di Aceh,
mengingat tanggung jawabnya atas suatu desa terhadap Allah S.W.T. tak sedikit
banyak masyarakat di Aceh yang mengklaim bahwa para teungku-lah yang sebenarnya
pahlawan tanda jasa. Tanpa teungku yang berjuang keras dengan hati ikhlas maka
akan rusaklah moral generasi muda sebagai khalifah dimuka bumi ini. Tanpa
seorang Teungku, di Aceh tidak akan ada suara semarak anak-anak mengaji yang
memecah kesunyian malam. (Aceh Jaya)
Gulee Masam Keu-Eung
My Aceh Tour | Asam
keu-eung merupakan salah satu masakan yang sangat populer di Aceh. Asam Keu-eung
(asam pedas) merupakan masakn asam pedas
yang merupakan juga dua ciri utama dalam masakan Melayu. Di Aceh, rasa
asam itu sendiri berasal dari asam sunti (belimbing wuluh yang sudah
dikeringkan). Sensasi yang hadir dalam masakan ini begitu jelas dalam
penggambaran masakan khas Aceh itu sendiri.
Ikan
yang dimasak pada gulai ini tidak terbatas, artinya semua ikan dapat dimasak
asam keu-eung. Perpaduan rasa yang begitu unik dalam masakan ini sangat cocok
untuk Aceh yang beriklim tropis. Jika anda mengunjungi Aceh Jaya jangan lupa
untuk mencoba mencicipi masakan masam keu-eung yang khas dari Aceh. Gulai masam
keu-eung sangat mudah didapatkan diberbagai warung nasi atau rumah makan di
seluruh Aceh Jaya.(Aceh Jaya)
Timphan
My Aceh Tour | Timphan merupakan kue khas dari aceh yang biasanya berisi
parutan kelapa yang bercampur gula dan srikaya (sepanjang pengetahuan saya
srikaya merupakan modifikasi dari kelapa) yang di bungkus dengan pucuk daun
pisang. Timphan ialah kue yang dianggap sangat spesial dan di sajikan di hari
spesial pula seperti pada hari raya maupun hari-hari besar di Aceh.(Aceh Jaya)
Seumeuleung Raja
My Aceh Tour | Seumeuleung raja
merupakan salah satu ritual adat yang sampai kini masih dilaksanakan oleh warga
Lamno, Aceh Jaya. Seumeuleung raja ialah salah satu upacara adat dimana pada
inti upacara ini ialah menyuapi seorang yang mendapat tahta raja Meureuhom
Daya. Bu Ulee merupakan sebutan untuk nasi yang dibawakan oleh dua
orang dayang, pada sebuah dalông (sejenis tempayan) dan
nantinya akan disuapi kepada sang pewaris tahta.
Dalam upacara adat ini, semua jenis makanan
yang disajikan merupakan hasil alam yang diperoleh oleh masyarakat Lamno yang
dibawakan secara sukarela tanpa patokan jumlah. Ini dilakukan untuk menghargai
dan juga sebagai bukti penghormatan kepada pewaris tahta Meureuhom Daya selaku
tokoh pemegang adat pada zaman kesultanan Sultan Iskandar Muda.
Upacara
seumeuleung raja ini dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah, atau tepatnya pada
hari pertama Idul Adha. Ketetapan tanggal ini sudah berlaku dari dahulu
sehingga ketetapan ini tidak bisa dirubah lagi. Karena sangat banyak warga yang
berdatangan dari luar Lamno, raja daya tersebut mengambil kebijakan untuk
melaksanakan upacara ulang pada hari lebaran Idul Adha yang ke-3. Ini
dimaksudkan agar semua warga yang bukan dari Lamno dapat menyaksikan upacara
seumeuleung raja. (Aceh Jaya)
Panglima Laot
My Aceh Tour | Panglima laôt
merupakan sebuah gelar alam yang diberikan kepada seseorang yang berdasarkan
struktur adat pada kalangan masyarakat nelayan di provinsi Aceh. Panglima laôt mempunyai peran dalam
mengatur segala aturan adat beserta tata cara hukum adat laut. Hukum adat ini
dijalankan berbasis syariah islam seperti apa yang berlaku di Aceh saat ini.
Disamping itu panglima laôt juga melaksanakan berbagai ketentuan-ketentuan adat serta mengelola
berbagai upacara adat kenelayanan dan termasuk juga dalam memecahkan berbagai
permasalahan dan perselisiham paham antar nelayan.
Hukum adat yang sudah dikenal sejak masa kerajaan
sultan iskandar muda dari kesultanan samudra pasai, merupakan perpanjangan
kedaulatan sultan pada wilayah pantai dan laut di Aceh. Panglima laôt yang juga sebagai penghubung
masyarakat dengan pemerintah, merupakan sebuah jabata yang berada diluar
struktur kepemerintahan, namun tetap bertanggung jawab penuh kepada pemerintah
atas jabatan yang diembannya. Kewenangan panglima laôt mengacu pada basis suatu lokasi dimana nelayan
melabuhkan kapalnya, tempat tinggal dan penjualan ikan hasil tangkapan atau
yang lebh dikenal dengan lhôk (teluk).
Tiga tugas pokok utama panglima laôt, diantaranya ialah mengatur
pengelolaan lingkungan laut, mengelola sumber daya alam laut, dan
mempertahankan keamanan laut. Tata cara penangkapan ikan di laut (meupayang)
dan hak-hak persekutuan di dalam teritorial lhôk diatur dalam Hukum Adat Laôt,
yang pelaksanaannya dilakukan oleh Panglima Laôt sebagai pemimpin persekutuan masyarakat
adat. (Aceh Jaya)
Serdadu Kecil dalam Permainan Beudee Trieng
My Aceh Tour | Dunia
anak sungguh sangat penuh dengan berbagi macam permainan. Dalam kesempatan ini,
saya akan membahas tentang media permainan Si Gam –bocah, Aceh red. Dimana pada awal musim pohon jambu air sudah
mulai berbuah Si Gam sesegera mungkin untuk menyesuaikan rencanya untuk mencari
bambu kecil untuk dijadikan sebagai media mereka untuk bermain bersama. Beudee
trieng –senjata yang dapat mengeluarkan suara letupan beserta peluru,
merupakan media untuk untuk bermain perang-perangan antar bocah.
Jika
divisualkan melalui kata, beudee trieng merupakan silinder
dimana salah satu ujungnya sudah tertutup dengan peluru yang siap untuk
ditembakkan, peluru tersebut akan tertembak melalui dorongan dari salah satu
ujungnyua lagi dengan syarat tidak sedikitpun udara yang keluar saat proses pendorongan.
Untuk
peluru beudee trieng ini tidak hanya dari putik bunga jambu air,
bahkan buah kecil dari pohon teumurui –pohon daun kari pun jadi
pelurunya asalkan ukuran biji sebagai peluru sesuai dengan lobang bambu.
Dalam
permainan perang-perangan, para bocah memeliki aturan tersendiri yaitu
diantaranya tidak boleh menembakan pada bagian kepala, karena dianngap sangat
berbahaya.(Aceh Jaya)
Apakah Kesaktian Pancasila Tidak untuk Aceh
My Aceh Tour | Banyak
sejarah yang sudah tertoreh dalam buku sejarah. Sangat banyak kenangan masa
lalu indonesia yang tertulis dalam sejarah yang dilupakan begitu saja. Aceh
dengan berbagai kontribusinya dalam memperjuangkn kemerdekaan Republik Indonesia
seakan dilupakan begitu saja.
Daud
Beureueh, yakni pada masa Aceh merupakan kerajaan yang merdeka serta juga
merupakan bagian dari kekhalifahan Turki Utsmaniyah, Soekarno datang kepada abu
Daud beureueh pada tahun 1948 untuk turut membantu mengusir para kolonial
belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada
17 Agustus 1945. Dan beliau berjanji bahwa Aceh akan diberikan kebebasan dalam
mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan syariat agama islam. Semua janji
ini akhirnya diingkari, provinsi aceh yang sudah diberikan kebebasan mengurus
rumah tangga sendiri dibubarkan dan harus bergabung dengan provinsi Sumatera
Utara.
Di
lain waktu, warga Aceh juga telah mengikhlaskan berbagai hartanya untuk membeli
pesawat yang kini telah menjadi nenek moyang dari maskapai penerbangan
kebanggaan bangsa ini yakni, “Garuda Indonesia Airways”. Lagi- lagi seakan Aceh
terlupakan begitu saja.
Dua
bukti ini mungkin sudah sangat cukup untuk membuktikan bagaimana rasa
nasionalis rakyat Aceh terhadap bangsa ini. Tetapi, apa yang terjadi pada Aceh
pada masa orde baru?
Aceh yang turut serta dalam pemusnahan PKI
tidak berarti oleh mereka yang berada dibangku pemerintahan yang ada di
Jakarta. Hasan tiro selaku deklarator Aceh Merdeka (AM) marah besar dan
melakukan perlawanan, dan hal serupa sudah juga dilakukan oleh Daud beureueh. Perlawanan
ini bukan bermaksud untuk memerdekan diri dari Indonesia, tetapi hanya untuk
meminta sebuah keadilan kapada bangsa yang agung ini.
Prajurit
Kopassus yang merupakan robot jelmaan manusia dikirim ke Aceh untuk menumpahkan
darah rakyat Aceh dengan dalih Aceh ingin memerdekakan diri dari Indonesia.
padahal, pada saat itu AM belum mendarah daging dalam tubuh rakyat Aceh, tetapi
perintah untuk membunuh dari penguasa harus tetap dilaksanakan. Berawal dari
sinilah pemberontakan di Aceh terjadi. Pelanggaran HAMyang merajalela di Aceh
terus tumbuh subur akibat kurang pekanya telinga sang penguasa.
Tidak
cukup dengan menumpahkan darah rakyat Aceh, penguasa saat itu juga melakukan
penelanjangan rakyat aceh secara terstruktur, dimana siswi Aceh dilarang
menggunakan jilbab. Belum lagi penaman era “Tienisasi” yang mengharuskan isteri
para pejabat dari tingkat rendah hingga kelas elit harus mengenakan kebaya dan
sanggul ala ibu Tien.
Darah
yang bersimbah di Aceh dianggap sebagai sebuah permainan hiburan. Hanya satu
yang pertanyaan, yang sangat mengganjal dalam relung rakyat Aceh saat itu
“Dimana bukti bahwa pancasila itu sakti? Mengapa lima sila yang ada di dada
garuda tidak membela Aceh disaat itu?”
Apakah kesaktian
pancasila tidak untuk Aceh? Wallahu’alam Bissawab. (Aceh Jaya)Cubeek, Alat Tradisional Penumbuk Ranuep
My Aceh Tour | Cubeek
ranup, ini merupakan salah alat tradisional yang sering digunakan oleh nenek
lansia yang sangat suka mengunyah ranuep (daun sirih beserta bahan lainnya). Cubeek
dapat membantu mereka dalam hal menumbuk daun sirih, pinang, gambir dan kapur,
terutama sekali bagi mereka yang sudah mengalami kekeroposan gigi gerahamnya. Cubeek
merupakan sebuah tabung yang terbuat dari bambu dan untuk ditutupi oleh
potongan dahan pohon jambu biji untuk menutupi bagian bawah bambu tersebut. sedangkan
penumbuknya sendiri atau penutup bagian atas cubek terbuat dari kayu yang
diberikan besi yang berada tepat pada as-nya, dimana ujung besi yang berfungsi
untuk menghancurkan daun sirih tersebut beserta ramuan lainnya diasah setajam
mungkin.
Dewasa
ini cubeek ini masih sangat sering dipakai oleh masyarakat Aceh, khususnya di
kabupaten Aceh Jaya sendiri. Hingga saat ini belum ada yang dapat menggantikan
posisi cubeek sebagai alat penumbuk ranuep oleh alat modern lainnya. Alat ini
masih hidup dengan lestari ditangan masyarakat Aceh. Era globalisasi zaman
tidak berpengaruh pada alat tradisional ini dikarenakan bahan yang digunakan
untuk membuat cubeek ini sangat mudah dijumpai. (Aceh Jaya)
Gunung Geurutee
My Aceh Tour | Gunung Geurutee merupakan awal sebuah perbatasan antara kabupaten Aceh Jaya dengan
Aceh Besar, atau dengan bahasa lain gunung Geurutee merupakan pintu gerbang
Aceh jaya yang terletak di kecamatan Lamnno Jaya yang jika kita melintas dari
ujung barat (kota Banda Aceh). Gunung Geurutee merupakan bagian dari hutan Ulu
Masen yang kini telah dinobatkan sebagai salah satu hutan penyuplai oksigen
kepada dunia. Gunung yang memiliki jurang yang sangat dalam dan langsung
berbatas dengan bibir pantai Samudera Hindia ini. Selain para pedangang yang
membuka warung sebagai tempat peristirahatan sejak bagi pengendara, gunung ini
mempunyai penghuni yang cukup unik yaitu kawanan para kera yang selalu
menyambut setiap angkutan yang melintas pada gunung tersebut.
Ciri khas
lain dari gunung ini ialah sebuah monumen yang berbentuk runcing yang merupakan
sebuah tanda bahwa anda sudah berada pada posisi pendakian tertinggi pegunungan
tersebut. dari sana anda dapat melihat dengan luas keindahan alam yang
terhampar elok.(Aceh Jaya)
Pantai Kuala Doe
My Aceh Tour | Kuala Doe, merupakan desa yang terletak dibibir panta Samudera
Hindia. Wilayah ini yang terletak 12 km dari kota Calang. Setelah dikunjungi
oleh seorang wisatawan dari Eropa tepatnya Jerman, wilayah ini semakin
terkenal. Populer yang dibawa ketempat asalnya oleh David beserta keluarganya ini
berhasil menarik banyak pengunjung dari tempat lain di tanah asalnya Eropa untuk
mengunjungi tempat ini. Disana David sempat membangun Bungalow didekat bibir
pantai Kuala Doe. Meskipun tempat ini merupakan tempat yang sempat diterpa oleh
tsunami pada Desember 2004 lalu, namun eksotis pantai pasir putih Kuala Doe tidak
pernah hilang. Desiran angin pantai yang begitu menawan dapat membangun ombak
yang sangat cocok untuk bermain surfing.
Selain sebagai wahana bermain surfing, pantai Kuala
Doe juga sangat sering dikunjungi oleh penyu untuk bertelur sebagai salah satu
usahanya dalam melestarikan kelangsungan hidupnya. Jika beruntung, pengunjung
dapat menyaksikan secara langsung penyu yang bertelur pada waktu malam hari.(Aceh Jaya)
Pantai Lhok Geulumpang
My Aceh Tour | Meskipun pantai Lhok Geulumpang pernah
diselimuti oleh gelombang Tsunami pada 24 Desember 2004, namun sejumlah pepohon masih tersusun rapi di bibir pantai
yang masih menghadirkan berbagai keindahan alami dari pantainya. Bagi anda yang pernah melewati tempat tersebut
jangan segan-segan untuk singgah di pantai Lhok Geulumpang. Karena, tempat tersebut bukanlah hanya untuk menikmati
suasananya saja, banyak hal yang
bisa dilakukan disana, seperti memancing, snorkeling
serta hal lain yang bersifat refreshing
unutk memanjakan mata dengan pemandangan pantai teluk.
Teluk yang indah ini juga merupakan salah satu
tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan dan juga terdapat berbagai fasilitas
penunjang bagi nelayan. Letak yang cukup strategi karena tempat tersebut berada
di dekat sebuah gunung yang dulunya merupakan lokasi pesta budaya regional
Asean.
Sisa-sisa kebesaran pesta masih
terlihat. Sebuah panggung hitam yang dipakai saat perhelatan pesta itu masih
berdiri di sana, meski posisinya telah miring setelah dihantam gelombang raya.
Kondisinya seperti tak terawat. Di belakang pantai, terdapat hutan yang masih alami dan dihuni berbagai
jenis kawanan monyet yang sering bercanda dengan pengunjung. Panorama di sebelah Barat
berhadapan langsung dengan laut Samudera Hindia dan di sebelah Timur terbentang
perbukitan yang tertata rapi.(Aceh Jaya)