ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

OUR TEAM

The awesome people behind our brand ... and their life motto.

  • Neila Jovan

    Head Hunter

    I long for the raised voice, the howl of rage or love.

  • Mathew McNalis

    Marketing CEO

    Contented with little, yet wishing for much more.

  • Michael Duo

    Developer

    If anything is worth doing, it's worth overdoing.

OUR SKILLS

We pride ourselves with strong, flexible and top notch skills.

Marketing

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

Websites

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

PR

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

  • Gelar Tengku Dan Peranannya Sebagai Pahlawan

    Gelar Tengku Dan Peranannya Sebagai Pahlawan

    My Aceh Tour | Semarak suara pengajian terdengar keras dari salah satu Balee -Pondok pengajian yang tidak begitu jauh dari sebuah mesjid. Kegiatan yang sangat rutin dilaksanakan oleh anak-anak hingga remaja tersebut berlangsung dari semenjak selesai shalat Magrib hingga shalat ‘Isya. Kegiatan ini sudah cukup membudaya disetiap mesjid, baik itu dikota maupun di desa-desa. Dimana seluruh santri duduk dalam posisi melingkar sambil mengaji dan menunggu guru mengaji datang menghampiri mereka satu-satu untuk mengevaluasi bagaimana bacaan ayat suci mereka, dan hingga mereka dinyatakan layak untuk membaca ayat ataupun surah selanjutnya dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut.  Pendidikan non-formal ini dilaksanakan dengan seikhlas hati oleh guru mengaji tersebut yang sebelumnya telah diutus oleh perangkat desa dalam musyawarah di desa tersebut.
    Teungku, inilah sebutan di aceh bagi kaum tua yang memiliki ilmu agama yang cukup tinggi sehingga dipercayakan untuk membagikan ilmu agamanya dengan mengajarkan mengaji serta ilmu lainya yang berkaitan dengan agama islam. Meskipun imbalan dengan seadanya, bagi mereka (Teungku) mengajarkan ilmu agama dan mengaji sudah sangat senang, karna ini merupakan salah satu sunnah rasul, yaitu berdakwah. Para teungku sangat ikhlas untuk membagikan ilmunya kepada santri-santri selaku generasi muda islam untuk kedepannya, membina generasi muda untuk tetap berpegang teguh pada tali Allah S.W.T dengan berpedoman pada Al-qur’an dan Hadist.

    Selain dipercaya untuk mengajarkan mengaji, para teungku juga dipercayakan untuk memimpin berbagai masalah yang berkaitan dengan hal-hal keagamaan dalam suatu wilayah dimana ia tinggal. Seperti pemutusan hukum adat yang bedasarkan syariah, memimpin upacara kematian, serta hal-hal lainnya yang menyangkut dengan keagamaan serta adat. Teungku sangat dihargai disetiap daerah di Aceh, mengingat tanggung jawabnya atas suatu desa terhadap Allah S.W.T. tak sedikit banyak masyarakat di Aceh yang mengklaim bahwa para teungku-lah yang sebenarnya pahlawan tanda jasa. Tanpa teungku yang berjuang keras dengan hati ikhlas maka akan rusaklah moral generasi muda sebagai khalifah dimuka bumi ini. Tanpa seorang Teungku, di Aceh tidak akan ada suara semarak anak-anak mengaji yang memecah kesunyian malam. (Aceh Jaya)
  • Gulee Masam Keu-Eung

    Gulee Masam Keu-Eung


    My Aceh Tour | Asam keu-eung merupakan salah satu masakan yang sangat populer di Aceh. Asam Keu-eung (asam pedas) merupakan masakn asam pedas  yang merupakan juga dua ciri utama dalam masakan Melayu. Di Aceh, rasa asam itu sendiri berasal dari asam sunti (belimbing wuluh yang sudah dikeringkan). Sensasi yang hadir dalam masakan ini begitu jelas dalam penggambaran masakan khas Aceh itu sendiri.
    Ikan yang dimasak pada gulai ini tidak terbatas, artinya semua ikan dapat dimasak asam keu-eung. Perpaduan rasa yang begitu unik dalam masakan ini sangat cocok untuk Aceh yang beriklim tropis. Jika anda mengunjungi Aceh Jaya jangan lupa untuk mencoba mencicipi masakan masam keu-eung yang khas dari Aceh. Gulai masam keu-eung sangat mudah didapatkan diberbagai warung nasi atau rumah makan di seluruh Aceh Jaya.(Aceh Jaya)

  • Timphan

    Timphan


    My Aceh Tour | Timphan merupakan kue khas dari aceh yang biasanya berisi parutan kelapa yang bercampur gula dan srikaya (sepanjang pengetahuan saya srikaya merupakan modifikasi dari kelapa) yang di bungkus dengan pucuk daun pisang. Timphan ialah kue yang dianggap sangat spesial dan di sajikan di hari spesial pula seperti pada hari raya maupun hari-hari besar di Aceh.(Aceh Jaya)
  • Seumeuleung Raja

    Seumeuleung Raja


    My Aceh Tour | Seumeuleung raja merupakan salah satu ritual adat yang sampai kini masih dilaksanakan oleh warga Lamno, Aceh Jaya. Seumeuleung raja ialah salah satu upacara adat dimana pada inti upacara ini ialah menyuapi seorang yang mendapat tahta raja Meureuhom Daya. Bu Ulee merupakan sebutan untuk nasi yang dibawakan oleh dua orang dayang, pada sebuah dalông (sejenis tempayan) dan nantinya akan disuapi kepada sang pewaris tahta.
     Dalam upacara adat ini, semua jenis makanan yang disajikan merupakan hasil alam yang diperoleh oleh masyarakat Lamno yang dibawakan secara sukarela tanpa patokan jumlah. Ini dilakukan untuk menghargai dan juga sebagai bukti penghormatan kepada pewaris tahta Meureuhom Daya selaku tokoh pemegang adat pada zaman kesultanan Sultan Iskandar Muda.
    Upacara seumeuleung raja ini dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah, atau tepatnya pada hari pertama Idul Adha. Ketetapan tanggal ini sudah berlaku dari dahulu sehingga ketetapan ini tidak bisa dirubah lagi. Karena sangat banyak warga yang berdatangan dari luar Lamno, raja daya tersebut mengambil kebijakan untuk melaksanakan upacara ulang pada hari lebaran Idul Adha yang ke-3. Ini dimaksudkan agar semua warga yang bukan dari Lamno dapat menyaksikan upacara seumeuleung raja. (Aceh Jaya)
  • Panglima Laot

    Panglima Laot


    My Aceh Tour | Panglima laôt merupakan sebuah gelar alam yang diberikan kepada seseorang yang berdasarkan struktur adat pada kalangan masyarakat nelayan di provinsi Aceh. Panglima laôt mempunyai peran dalam mengatur segala aturan adat beserta tata cara hukum adat laut. Hukum adat ini dijalankan berbasis syariah islam seperti apa yang berlaku di Aceh saat ini. Disamping itu panglima laôt juga melaksanakan berbagai ketentuan-ketentuan adat serta mengelola berbagai upacara adat kenelayanan dan termasuk juga dalam memecahkan berbagai permasalahan dan perselisiham paham antar nelayan.
    Hukum adat yang sudah dikenal sejak masa kerajaan sultan iskandar muda dari kesultanan samudra pasai, merupakan perpanjangan kedaulatan sultan pada wilayah pantai dan laut di Aceh. Panglima laôt yang juga sebagai penghubung masyarakat dengan pemerintah, merupakan sebuah jabata yang berada diluar struktur kepemerintahan, namun tetap bertanggung jawab penuh kepada pemerintah atas jabatan yang diembannya. Kewenangan panglima laôt mengacu pada basis suatu lokasi dimana nelayan melabuhkan kapalnya, tempat tinggal dan penjualan ikan hasil tangkapan atau yang lebh dikenal dengan lhôk (teluk).
    Tiga tugas pokok utama panglima laôt, diantaranya ialah mengatur pengelolaan lingkungan laut, mengelola sumber daya alam laut, dan mempertahankan keamanan laut. Tata cara penangkapan ikan di laut (meupayang) dan hak-hak persekutuan di dalam teritorial lhôk diatur dalam Hukum Adat Laôt, yang pelaksanaannya dilakukan oleh Panglima Laôt sebagai pemimpin persekutuan masyarakat adat. (Aceh Jaya)

  • Serdadu Kecil dalam Permainan Beudee Trieng

    Serdadu Kecil dalam Permainan Beudee Trieng

    My Aceh Tour | Dunia anak sungguh sangat penuh dengan berbagi macam permainan. Dalam kesempatan ini, saya akan membahas tentang media permainan Si Gam –bocah, Aceh red. Dimana pada awal musim pohon jambu air sudah mulai berbuah Si Gam sesegera mungkin untuk menyesuaikan rencanya untuk mencari bambu kecil untuk dijadikan sebagai media mereka untuk bermain bersama. Beudee trieng –senjata yang dapat mengeluarkan suara letupan beserta peluru, merupakan media untuk untuk bermain perang-perangan antar bocah.
    Jika divisualkan melalui kata, beudee trieng merupakan silinder dimana salah satu ujungnya sudah tertutup dengan peluru yang siap untuk ditembakkan, peluru tersebut akan tertembak melalui dorongan dari salah satu ujungnyua lagi dengan syarat tidak sedikitpun udara yang keluar saat proses pendorongan.
    Untuk peluru beudee trieng ini tidak hanya dari putik bunga jambu air, bahkan buah kecil dari pohon teumurui –pohon daun kari pun jadi pelurunya asalkan ukuran biji sebagai peluru sesuai dengan lobang bambu.
    Dalam permainan perang-perangan, para bocah memeliki aturan tersendiri yaitu diantaranya tidak boleh menembakan pada bagian kepala, karena dianngap sangat berbahaya.(Aceh Jaya)

  • Apakah Kesaktian Pancasila Tidak untuk Aceh

    Apakah Kesaktian Pancasila Tidak untuk Aceh


    My Aceh Tour | Banyak sejarah yang sudah tertoreh dalam buku sejarah. Sangat banyak kenangan masa lalu indonesia yang tertulis dalam sejarah yang dilupakan begitu saja. Aceh dengan berbagai kontribusinya dalam memperjuangkn kemerdekaan Republik Indonesia seakan dilupakan begitu saja.
    Daud Beureueh, yakni pada masa Aceh merupakan kerajaan yang merdeka serta juga merupakan bagian dari kekhalifahan Turki Utsmaniyah, Soekarno datang kepada abu Daud beureueh pada tahun 1948 untuk turut membantu mengusir para kolonial belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Dan beliau berjanji bahwa Aceh akan diberikan kebebasan dalam mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan syariat agama islam. Semua janji ini akhirnya diingkari, provinsi aceh yang sudah diberikan kebebasan mengurus rumah tangga sendiri dibubarkan dan harus bergabung dengan provinsi Sumatera Utara.
    Di lain waktu, warga Aceh juga telah mengikhlaskan berbagai hartanya untuk membeli pesawat yang kini telah menjadi nenek moyang dari maskapai penerbangan kebanggaan bangsa ini yakni, “Garuda Indonesia Airways”. Lagi- lagi seakan Aceh terlupakan begitu saja.
    Dua bukti ini mungkin sudah sangat cukup untuk membuktikan bagaimana rasa nasionalis rakyat Aceh terhadap bangsa ini. Tetapi, apa yang terjadi pada Aceh pada masa orde baru?
     Aceh yang turut serta dalam pemusnahan PKI tidak berarti oleh mereka yang berada dibangku pemerintahan yang ada di Jakarta. Hasan tiro selaku deklarator Aceh Merdeka (AM) marah besar dan melakukan perlawanan, dan hal serupa sudah juga dilakukan oleh Daud beureueh. Perlawanan ini bukan bermaksud untuk memerdekan diri dari Indonesia, tetapi hanya untuk meminta sebuah keadilan kapada bangsa yang agung ini.
    Prajurit Kopassus yang merupakan robot jelmaan manusia dikirim ke Aceh untuk menumpahkan darah rakyat Aceh dengan dalih Aceh ingin memerdekakan diri dari Indonesia. padahal, pada saat itu AM belum mendarah daging dalam tubuh rakyat Aceh, tetapi perintah untuk membunuh dari penguasa harus tetap dilaksanakan. Berawal dari sinilah pemberontakan di Aceh terjadi. Pelanggaran HAMyang merajalela di Aceh terus tumbuh subur akibat kurang pekanya telinga sang penguasa.
    Tidak cukup dengan menumpahkan darah rakyat Aceh, penguasa saat itu juga melakukan penelanjangan rakyat aceh secara terstruktur, dimana siswi Aceh dilarang menggunakan jilbab. Belum lagi penaman era “Tienisasi” yang mengharuskan isteri para pejabat dari tingkat rendah hingga kelas elit harus mengenakan kebaya dan sanggul ala ibu Tien.
    Darah yang bersimbah di Aceh dianggap sebagai sebuah permainan hiburan. Hanya satu yang pertanyaan, yang sangat mengganjal dalam relung rakyat Aceh saat itu “Dimana bukti bahwa pancasila itu sakti? Mengapa lima sila yang ada di dada garuda tidak membela Aceh disaat itu?”
    Apakah kesaktian pancasila tidak untuk Aceh? Wallahu’alam Bissawab. (Aceh Jaya)

  • Cubeek, Alat Tradisional Penumbuk Ranuep

    Cubeek, Alat Tradisional Penumbuk Ranuep


    My Aceh Tour | Cubeek ranup, ini merupakan salah alat tradisional yang sering digunakan oleh nenek lansia yang sangat suka mengunyah ranuep (daun sirih beserta bahan lainnya). Cubeek dapat membantu mereka dalam hal menumbuk daun sirih, pinang, gambir dan kapur, terutama sekali bagi mereka yang sudah mengalami kekeroposan gigi gerahamnya. Cubeek merupakan sebuah tabung yang terbuat dari bambu dan untuk ditutupi oleh potongan dahan pohon jambu biji untuk menutupi bagian bawah bambu tersebut. sedangkan penumbuknya sendiri atau penutup bagian atas cubek terbuat dari kayu yang diberikan besi yang berada tepat pada as-nya, dimana ujung besi yang berfungsi untuk menghancurkan daun sirih tersebut beserta ramuan lainnya diasah setajam mungkin.
    Dewasa ini cubeek ini masih sangat sering dipakai oleh masyarakat Aceh, khususnya di kabupaten Aceh Jaya sendiri. Hingga saat ini belum ada yang dapat menggantikan posisi cubeek sebagai alat penumbuk ranuep oleh alat modern lainnya. Alat ini masih hidup dengan lestari ditangan masyarakat Aceh. Era globalisasi zaman tidak berpengaruh pada alat tradisional ini dikarenakan bahan yang digunakan untuk membuat cubeek ini sangat mudah dijumpai. (Aceh Jaya)
  • Gunung Geurutee

    Gunung Geurutee


    My Aceh Tour | Gunung Geurutee merupakan awal sebuah perbatasan antara kabupaten Aceh Jaya dengan Aceh Besar, atau dengan bahasa lain gunung Geurutee merupakan pintu gerbang Aceh jaya yang terletak di kecamatan Lamnno Jaya yang jika kita melintas dari ujung barat (kota Banda Aceh). Gunung Geurutee merupakan bagian dari hutan Ulu Masen yang kini telah dinobatkan sebagai salah satu hutan penyuplai oksigen kepada dunia. Gunung yang memiliki jurang yang sangat dalam dan langsung berbatas dengan bibir pantai Samudera Hindia ini. Selain para pedangang yang membuka warung sebagai tempat peristirahatan sejak bagi pengendara, gunung ini mempunyai penghuni yang cukup unik yaitu kawanan para kera yang selalu menyambut setiap angkutan yang melintas pada gunung tersebut.
    Ciri khas lain dari gunung ini ialah sebuah monumen yang berbentuk runcing yang merupakan sebuah tanda bahwa anda sudah berada pada posisi pendakian tertinggi pegunungan tersebut. dari sana anda dapat melihat dengan luas keindahan alam yang terhampar elok.(Aceh Jaya)
  • Pantai Kuala Doe

    Pantai Kuala Doe


    My Aceh Tour | Kuala Doe, merupakan desa yang terletak dibibir panta Samudera Hindia. Wilayah ini yang terletak 12 km dari kota Calang. Setelah dikunjungi oleh seorang wisatawan dari Eropa tepatnya Jerman, wilayah ini semakin terkenal. Populer yang dibawa ketempat asalnya oleh David beserta keluarganya ini berhasil menarik banyak pengunjung dari tempat lain di tanah asalnya Eropa untuk mengunjungi tempat ini. Disana David sempat membangun Bungalow didekat bibir pantai Kuala Doe. Meskipun tempat ini merupakan tempat yang sempat diterpa oleh tsunami pada Desember 2004 lalu, namun eksotis pantai pasir putih Kuala Doe tidak pernah hilang. Desiran angin pantai yang begitu menawan dapat membangun ombak yang sangat cocok untuk bermain surfing.
    Selain sebagai wahana bermain surfing, pantai Kuala Doe juga sangat sering dikunjungi oleh penyu untuk bertelur sebagai salah satu usahanya dalam melestarikan kelangsungan hidupnya. Jika beruntung, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung penyu yang bertelur pada waktu malam hari.(Aceh Jaya)
  • Pantai Lhok Geulumpang

    Pantai Lhok Geulumpang


    My Aceh Tour | Meskipun pantai Lhok Geulumpang pernah diselimuti oleh gelombang Tsunami pada 24 Desember 2004, namun sejumlah pepohon masih tersusun rapi di bibir pantai yang masih menghadirkan berbagai keindahan alami dari pantainya. Bagi anda yang pernah melewati tempat tersebut jangan segan-segan untuk singgah di pantai Lhok Geulumpang. Karena, tempat tersebut bukanlah hanya untuk menikmati suasananya saja, banyak hal yang bisa dilakukan disana, seperti memancing, snorkeling serta hal lain yang bersifat refreshing unutk memanjakan mata dengan pemandangan pantai teluk.
    Teluk yang indah ini juga merupakan salah satu tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan dan juga terdapat berbagai fasilitas penunjang bagi nelayan. Letak yang cukup strategi karena tempat tersebut berada di dekat sebuah gunung yang dulunya merupakan lokasi pesta budaya regional Asean.
    Sisa-sisa kebesaran pesta masih terlihat. Sebuah panggung hitam yang dipakai saat perhelatan pesta itu masih berdiri di sana, meski posisinya telah miring setelah dihantam gelombang raya. Kondisinya seperti tak terawat. Di belakang pantai, terdapat hutan yang masih alami dan dihuni berbagai jenis kawanan monyet yang sering bercanda dengan pengunjung. Panorama di sebelah Barat berhadapan langsung dengan laut Samudera Hindia dan di sebelah Timur terbentang perbukitan yang tertata rapi.(Aceh Jaya)
  • 468x60 Ads

    Welcome To Aceh Jaya

    Ads 468x60px

    Empowered By : My Aceh Tour

    My Community

    ADS

    Social Icons

    Featured Posts

    WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Aceh Jaya

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.